Aksi Zulkifli Hasan Bantu Korban Banjir di Padang Menuai Kritik: Derasnya Tuduhan Pencitraan

Oleh FDT, 8 Des 2025
Pada Minggu, 30 November 2025, Zulkifli Hasan Menko Bidang Pangan mengunjungi kawasan terdampak banjir bandang di Koto Panjang Ikur Koto, Kecamatan Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat. Dalam video yang diunggah ke media sosial, terlihat ia memanggul sekarung beras, membersihkan lumpur rumah warga, serta membagikan bantuan logistik kepada korban bencana. 

Aksi ini mendapat perhatian luas di satu sisi dianggap sebagai bentuk kepedulian langsung dari pejabat tinggi kepada masyarakat terdampak. Namun di sisi lain, banyak yang menyuarakan kritik tajam, mempertanyakan motif di balik gerakan tersebut.


Sebab Kritik: Konten, Kamera, dan Kesannya “Pencitraan”

* Fokus pada Video dan Sorotan Media

Salah satu aspek yang paling mendapat sorotan adalah publikasi video bantuan itu sendiri. Dalam rekaman tersebut, selain membagikan bantuan beras dan membantu bersihkan rumah, tampak petugas merekam secara intens dengan kamera, mikrofon, dan interaksi yang tampak diarahkan. 

Banyak netizen kemudian menilai bahwa tindakan itu lebih sebagai “konten” ketimbang respons cepat terhadap bencana. Kritik itu muncul karena dianggap menonjolkan citra pribadi pejabat  bukan semata menolong warga. 

* Aksi Simbolis vs. Kebijakan Struktural

Beberapa pengkritik berpendapat bahwa menghadirkan bantuan dan turun langsung ke lokasi bencana tidak cukup bila tidak diikuti dengan kebijakan struktural jangka panjang misalnya perbaikan sistem tanggap bencana, mitigasi risiko, pemulihan habitat, atau penanganan penyebab bencana. Dalam sorotan itu, aksi simbolis seperti memanggul beras dianggap sebagai “perbaikan publikasi”, bukan solusi nyata. 

* Reaksi Masyarakat dan Netizen

Di media sosial dan kolom komentar publik, ada beragam respons negatif. Beberapa menyebut aksi tersebut sebagai “pencitraan pejabat”, “sandiwara”, atau “tampak heroik di depan kamera”. 

Namun, di sisi lain, ada pihak yang membela, menyatakan bahwa setiap bantuan — sekecil apapun — tetap penting bagi korban. 


Pembelaan dan Respons dari Pihak Bersangkutan

Menanggapi kritikan tersebut, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa setiap bantuan meskipun hanya satu karung beras atau satu tindakan simbolis bisa sangat berarti bagi masyarakat terdampak. Ia mengatakan bahwa fokus utamanya adalah memastikan bantuan cepat sampai, bukan sekadar popularitas. 

Sementara itu, partai dan pendukungnya juga membela tindakan itu sebagai bentuk empati nyata dan kehadiran pemerintah di tengah krisis. 


Apa Pelajaran dari Kontroversi Ini?

Kemuliaan niat tidak cukup: Saat pejabat turun langsung, publik tentunya menghargai aksi nyata. Namun, ketika bantuan dikombinasikan dengan publikasi masif berupa video, foto, dan sorotan media wajar kalau muncul pertanyaan tentang motivasi.

Transparansi dan keberlanjutan lebih penting daripada momen: Warga terdampak butuh lebih dari sekadar distribusi bantuan cepat mereka membutuhkan rencana pemulihan jangka panjang, rehabilitasi rumah, akses layanan, serta langkah preventif agar bencana serupa tidak terulang.

Kritik bukan cuma soal citra politik, tetapi akuntabilitas: Banyak yang menilai bahwa dalam bencana besar, pejabat seharusnya konsisten bekerja di balik layar; bukan menciptakan “panggung simpati”.

Aksi Zulkifli Hasan membantu korban banjir bandang di Padang memang memunculkan dua interpretasi: di satu sisi sebagai bentuk kepedulian dan empati pejabat terhadap rakyat; di sisi lain sebagai aksi yang berpotensi jatuh ke ranah politik dan pencitraan.

Dalam setiap bencana, tindakan nyata dan transparansi jauh lebih berarti daripada sekadar narasi heroik. Publik berhak menagih hasil bukan hanya momen agar bantuan benar-benar membawa perubahan, bukan cuma konten.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

 
Copyright © KabarMingguan.com
All rights reserved