Reward & Punishment di Sekolah: Terlalu Keras atau Justru Adil?

Oleh FDT, 3 Jul 2025
Dalam sistem pendidikan, penerapan reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) merupakan metode yang sering kali diperdebatkan. Di lingkungan pendidikan formal maupun informal, cara ini dianggap sebagai instrumen untuk membentuk karakter dan kedisiplinan siswa. Namun, bagaimana pelaksanaannya di sekolah, khususnya di pesantren modern di Bandung seperti Pesantren Al Masoem, menjadi topik yang menarik untuk dikaji lebih dalam.

Pesantren modern di Bandung, termasuk Boarding School di Bandung, telah berusaha menerapkan konsep pendidikan yang seimbang antara akademik dan pengembangan karakter. Pesantren Al Masoem Bandung, misalnya, menekankan pentingnya pembentukan akhlak melalui pendidikan yang terintegrasi. Di sini, sistem reward dan punishment menjadi bagian dari kultur belajar-mengajar, namun dengan pendekatan yang lebih humanis dan edukatif. 

Metode reward biasanya mencakup pemberian penghargaan kepada siswa yang menunjukkan prestasi atau perilaku baik. Dalam konteks pesantren, reward bisa berupa sanjungan, sertifikat, atau bahkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan tertentu. Penghargaan ini berfungsi tidak hanya untuk memotivasi siswa, tetapi juga untuk menciptakan suasana positif di lingkungan sekolah. Dengan sistem penghargaan yang jelas, siswa merasa dihargai atas usaha dan kerja keras mereka, sehingga memicu semangat belajar yang lebih tinggi.

Di sisi lain, punishment sering kali dipandang sebagai metode yang lebih kontroversial. Hukuman, jika tidak diterapkan dengan bijak, dapat membuat siswa merasa tertekan dan tidak nyaman, sehingga menghasilkan efek negatif. Di Pesantren Al Masoem Bandung, hukuman diterapkan dengan prinsip edukatif, bukan dengan cara yang keras atau mengancam. Misalnya, jika seorang siswa melanggar aturan, mereka mungkin diminta untuk melakukan tugas tambahan atau mengikuti sesi konseling. Pendekatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab, bukan hanya sekadar menjatuhi hukuman.

Penting untuk dicatat bahwa implementasi reward dan punishment tidak dapat dipandang sebagai satu hal yang terpisah. Di Boarding School di Bandung, keberhasilan penerapan kedua metode ini sangat bergantung pada keseimbangan dan konteks lingkungan belajar. Sebuah sekolah yang menerapkan hukuman tanpa diimbangi dengan penghargaan dapat menciptakan suasana yang menegangkan dan mengurangi motivasi siswa. Sebaliknya, hanya mengandalkan penghargaan tanpa memberi arahan jelas terhadap konsekuensi dari perilaku negatif juga dapat mengakibatkan siswa kehilangan arah.

Terdapat pula kritik yang menyatakan bahwa penerapan hukuman di sekolah, termasuk di pesantren, bisa menjadi terlalu keras. Beberapa orang berpendapat bahwa metode pendidikan harus lebih fokus pada pembinaan karakter dan pengembangan emosional. Dalam suasana seperti ini, pendekatan berbasis kasih sayang dan pengertian menjadi lebih penting daripada sekadar penerapan disiplin yang kaku. Pesantren modern di Bandung berusaha menggabungkan elemen-elemen ini untuk menciptakan atmosfer belajar yang lebih sehat dan mendukung.

Metode reward dan punishment di sekolah, terutama di lingkungan pesantren seperti Pesantren Al Masoem Bandung, adalah sebuah pendekatan yang kompleks. Keduanya memainkan perannya masing-masing dalam membentuk kepribadian siswa. Meski bisa jadi terkadang terlihat keras, bila dilihat dari sudut pandang pendidikan yang komprehensif, penerapan prinsip ini dapat diartikan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang adil dan berorientasi pada pengembangan individu. Dengan begitu, diharapkan siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga baik hati dan bertanggung jawab.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

 
Copyright © KabarMingguan.com
All rights reserved